Thursday, May 28th, 2015

Etika Akuntan Publik Dalam Melakukan Pemeriksaan

Published on November 19, 2010 by   ·   No Comments

Centerpoint.co.id

centerpoint

Penelaahan Etika Akuntan Publik Dalam Melakukan Pemeriksaan
(Penelitian Survei Pada Perusahaan Publik)
Endang Dwi Wahyuni
(Dosen Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi UMM)
Abstract
This research is a survey study to the public Companies with the title “the
measurement of accountant ethic in auditing at public company. The objective of this
research is to find out whether ethic is good or not.
To find out whether the ethic of accountant is good or not, the indicator used are
personally, professional ability, responsibility to the partner with the same profession
and other responsibilities these indicators can be reflected at questionnaire sent to the
95 respondent trough only 22 questionnaire are returned. In order to answer the
phenomenon above, researcher uses the descriptive analysis, which done by giving
description of respondent answer to the particular answer category, then describe it
with table and graph.
The result of the analysis indicator that accountant ethics who do a task as an
auditor can be said good in point of view personality, professional ability,
responsibility to the client, responsibility to the partner with the same professional and
other responsibility since this result is a bit different with the phenomenon, researcher
hopes that there is an advance research with more sample and indicators and wider
scope
Key Words: Accountants ethical code, public accountants, auditing
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Informasi akuntansi dari suatu perusahaan sangat dibutuhkan oleh pihak internal
maupun eksternal perusahaan. Pihak internal mempunyai akses langsung dalam
memperoleh informasi akuntansi sedangkan bagi pihak ekternal terutama dalam hal
perusahaan publik. Informasi akuntansi agar dapat dipertanggungjawabkan
kelayakannya terlebih dahulu harus melalui audit yang dilaksanakan oleh akuntan
publik yang mempunyai kompetensi dalam bidang akuntansi dan auditing sesuai
dengan standar profesional serta telah menjunjung tinggi kode etik profesi akuntansi
yang berlaku. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa peran profesi akuntansi sangat
penting sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kewajaran informasi keuangan yang
diberikan kepada masyarakat.
Peran informasi akuntansi di dalam masyarakat adalah sebagai sarana komunikasi
yang efektif antara investor dan kreditor di satu pihak serta manajemen perusahaan di
lain pihak. Proses akuntansi di sini dapat disimpulkan sebagai proses untuk
mengidentifikasi, mengelola dan mengkomunikasikan informasi ekonomi yang
diperlukan oleh pemakai dalam proses mempertimbangkan dan mengambil keputusan
usaha. Jenis informasi akuntansi selalu berubah sesuai dengan perubahan waktu dan
perubahan dalam struktur ekonomi masyarakat. Agar dapat menjadi lebih efektif,
komunikasi akuntansi harus lebih akurat disusun oleh si pengirim – dalam hal ini
manajemen, dan harus dipercaya serta dapat diproses lebih lanjut oleh penerima —
dalam hal ini investor dan kreditor. Di sinilah sebenarnya peran profesi akuntansi
sebagai penengah dari kedua kubu tersebut dan menambah efektifitas komunikasi dari
akuntansi yang diperlukan dalam sistem ekonomi masyarakat.
Peran profesi akuntansi yang strategis menuntut para akuntan untuk dapat bekerja
dengan lebih baik, tertib, tidak menyalahi aturan yang berlaku, serta mampu
menghasilkan prediksi strategis secara lebih tepat, juga memberikan saran membangun
dan pemecahan berbagai masalah keuangan yang dihadapi perusahaan. Untuk itu,
mereka harus berdedikasi tinggi, serta senantiasa menjunjung tinggi kode etik profesi
akuntan serta tidak merugikan negara dan mayarakat pada umumnya.
Sejalan dengan besarnya peranan tersebut, profesi akuntan juga mempunyai
tanggung jawab yang sangat besar dalam mengemban kepercayaan yang diberikan
kepadanya oleh masyarakat. Tanggungjawabnya bukan sekedar tanggungjawab moral
individual dan menjunjung tinggi kepatuhan terhadap standar profesi, tapi juga
mencakup tanggung jawab hukum dan sosial sebagai warga negara yang baik. Akuntan
publik diharapkan melaksanakan standar profesinya secara sungguh-sungguh termasuk
menghindari conflict of interest dan mempertahankan sikap independence dalam setiap
pelaksanaan tugasnya.
Secara umum kode etik berlaku untuk profesi akuntan secara keseluruhan. Kalau
melihat kode etik akuntan Indonesia isinya sebagian besar menyangkut profesi
akuntan publik. Padahal IAI memiliki kompartemen akuntan pendidikan, perlu
dipikirkan kode etik yang menyangkut akuntan manajemen, akuntan pendidikan,
akuntan negara (BPKP, BPK, Pajak).
Kasus yang sering terjadi yang menjadi berita biasanya yang menyangkut akuntan
publik. Kasus tersebut bagi masyarakat sering dianggap pelanggaran kode etik padahal
seringkali kasus tersebut sebenarnya merupakan pelanggaran standar audit atau
pelanggaran terhadap SAK. Akhir-akhir ini banyak sorotan yang diarahkan pada para
akuntan yang intinya mempersoalkan kemampuan dan kredibilitas mereka dalam
menjalankan fungsinya. Dengan kata lain, kepercayaan berbagai pihak terhadap jasa
mereka diragukan. Hal ini tampak dari beberapa kasus yang timbul yang sebagian
mempersoalkan etika profesi para akuntan dalam menjalankan tugasnya.
Akuntan beberapa kali dituduh telah melalaikan kewajibannya untuk mendeteksi
dan melaporkan adanya kecurangan dalam pencatatan laporan keuangan. Pembelaan
akuntan selama ini bahwa fungsi utamanya hanya memeriksa bukti dari kewajaran
laporan keuangan dan tidak bertugas mencari kecurangan, nampaknya tidak ampuh
lagi. Predikat wajar tanpa syarat yang dikeluarkan KAP disebut-sebut telah memainkan
peran yang tidak kecil bagi terciptanya kondisi buruk ini, terutama jika dikaitkan
dengan kewajaran laporan keuangan.
Berdasarkan uraian di atas, kami tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“Penelahan etika akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan (Penelitian
survai pada perusahaan Publik)”
Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang ada dapat dirumuskan
sebagai berikut : Bagaimana etika akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan?
TINJAUAN PUSTAKA
Laporan Keuangan
Laporan keuangan menurut Kieso Weygand(1995 :6) merupakan sarana utama
melalui mana informasi keuangan dikomunikasikan kepada pihak di luar perusahaan.
Laporan ini memberikan “suatu sejarah yang berkeseimbangan yang di kuantifikasikan
dalam satuan uang berkenaan dengan sumberdaya ekonomi dan kewajiban dari suatu
perusahaan bisnis dan aktivitas ekonomi yang mengubah sumber daya dan kewajiban
ini”. Laporan Keuangan yang paling sering disajikan adalah (1) neraca, (2) perhitungan
labar rugi, (3) laporan arus kas, dan (4) laporan perubahan ekuitas pemilik atau
pemegang saham. Selain itu, pengungkapan dalam catatan merupakan bagian yang
terpadu dari masing-masing keempat laporan keuangan dasar ini.
Menurut Baridwan (1997:17) Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu
proses pencatatan , merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang
terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh
manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Di samping itu laporan
keuangan dapat juga digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai
laporan kepada pihak-pihak diluar perusahaan. Agar pembaca laporan keuangan
memperoleh gambaran yang jelas, maka laporan keuangan yang disusun harus
berdasarkan pada prinsip akuntansi yang lazim.
Penyusunan laporan keuangan dilakukan secara periodik yang biasanya tahunan
mulai 1 Januari dan berakhir pada tgl 31 desember. Periode seperti ini disebut periode
tahun kalender. Selain tahun kelender periode akuntansi bisa juga dimulai dari tanggal
selain tanggal 1 januari. Istilah periode akuntansi sering juga diganti dengan istilah
tahun buku.
Auditing
Ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, menurut Mulyadi (1997 :9) auditing
adalah pemeriksaan secara objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau
organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil
usaha keuangan atau organisasi tersebut. Ditinjau dari definisi umum, pemeriksaan
yang dilaksanakan oleh auditor independen ditujukan terhadap pernyataan mengenai
kegiatan ekonomi, yang disajikan oleh suatu organisasi dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan ini dilakukan oleh auditor independen untuk menilai kewajaran informasi
yang tercantum dalam laporan keuangan. Auditor yang melaksanakan audit atas
laporan keuangan historis disebut dengan auditor independen.
Informasi keuangan disajikan oleh manajemen kepada masyarakat keuangan
untuk memungkinkan masyarakat keuangan menilai pertanggungjawaban keuangan
manajemen dan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
kembalian investasi (return on investment) dan posisi keuangan perusahaan. Namun bagi
masyarakat keuangan, laporan keuangan yang disajikan manajemen mengandung
kemungkinan adanya pengaruh kepentingan pribadi manajemen dalam menyajikan
informasi hasil usaha dan posisi keuangan yang menguntungkan bagi mereka dan
keteledoran serta ketidak jujuran yang dilakukan manajemen dalam penyusunan
laporan keuangan. Oleh karena itu masyarakat keuangan memerlukan jasa profesional
untuk menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan oleh manajemen atas dasar
informasi keuangan yang andal, masyarakat keuangan akan memiliki dasar yang andal
untuk menyalurkan dana mereka keusaha-usaha yang beroperasi secara efisien dan
memiliki posisi keuangan yang sehat.
Penyediaan informasi keuangan yang memungkinkan masyarakat keuangan
menyalurkan dana mereka ke usaha-usaha yang efisien akan menjadikan sehat
perekonomian suatu negara. Profesi akuntan publik bertanggungjawab untuk
menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan-perusahaan, sehingga
masyarakat keuangan memperoleh informasi keuangan yang andal sebagai dasar untuk
memutuskan alokasi sumber-sumber ekonomi.
Kode Etik Akuntan Indonesia
Profesi akuntan dalam menjalankan pekerjaan melayani kepentingan masyarakat
publik dibutuhkan sikap yang profesional untuk melaksanakan kewajibannya. Untuk
menjaga nama baik keahlian dan melindungi kepentingan masyarakat maka pada
umumnya organisasi profesi menetapkan ketentuan mengenai perilaku yang harus
dipatuhi oleh para anggotanya secara tertulis, disebut kode etik.
Para akuntan di Indonesia sudah sejak lama memiliki kode etik bagi para
anggotanya. Ketentuan terakhir yang disetujui pada kongres VIII IAI Tgl 24
September 1998 berisi tentang aturan etika yang merupakan bagian dari kode etik IAI
yang bersifat tidak baku jadi menyesuaikan perubahan dan perkembangan baru. Oleh
karena itu, hal yang kurang jelas dalam aturan etika ini, rumusannya akan diatur lebih
lanjut dalam interpretasi aturan etika. Penegasan aturan etika dari hasil kongres ini
tertuju pada pemakaian hasil audit, barometer dalam permasalahan iklan serta
pengaturan komisi untuk profesi akuntan.
Substansi kode etik Indonesia mencakup berbagai aturan yang berkaitan dengan
perilaku yang diharapkan dari para akuntan publik. Secara garis besar aturan tersebut
mengikuti hal-hal yang berkaitan dengan :
1. Kepribadian
Kepribadian mengatur:
a. Kewajiban semua anggota IAI untuk menjaga nama baik profesi dan
menjunjung tinggi etika profesional serta hukum yang berlaku di tempat
anggota menjalankan profesinya.
b. Kewajiban semua anggota IAI untuk mempertahankan integritas dan
objektivitas dalam menjalankan tugasnya.
2. Tanggung Jawab
Dua tanggung jawab yang harus dipikul oleh akuntan publik dalam menjalankan
pekerjaan profesionalnya :
a. Menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dalam pelaksanaan tugasnya.
b. Menjaga mutu pekerjaan profesionalnya
3. Kecakapan profesional
Kode etik mengatur:
a. kewajiban bagi setiap anggota IAI untuk melaksanakan pekerjaannya
berdasarkan standar profesional yang berlaku bagi pekerjaannya.
b. Kewajiban bagi setiap anggota IAI untuk mengikat orang-orang yang bekerja
dalam pelaksanaan tugas-tugas profesionalnya untuk mematuhi kode etik
akuntan Indonesia.
c. Kewajiban bagi setiap anggota IAI untuk senantiasa meningkatkan kecakapan
profesionalnya.
d. Kewajiban untuk menolak setiap penugasan yang tidak sesuai dengan
kecakapan profesionalnya.
4. Ketentuan khusus
Ketentuan khusus dalam kode etik dalam akuntan Indonesia berisi pasal yang
mengatur perilaku anggota IAI yang berpraktik sebagai akuntan publik.
Mengenai pernyataan etika profesi, yang sudah disusun adalah :
1. Integritas, objektifitas, dan indepedensi
2. Kecakapan profesional
3. Pengungkapan informasi rahasia klien
4. Ikatan bagi kantor akuntan publik
5. Pemeliharaan staff / patner dari satu kantor akuntan ke kantor akuntan lain.
Perlunya dikemukakan bahwa kode etik akuntan Indonesia untuk bagian yang
terbesar berlaku bagi akuntan publik maupun akuntan yang bekerja di bidang-bidang
lain selama yang bersangkutan adalah anggota IAI.
Pelanggaran Terhadap Kode Etik
Faktor – faktor ekstern yang mempengaruhi adalah :
1. Kurangnya kesadaran anggota masyarakat (termasuk anggota KAP) akan
kepatuhan terhadap hukum.
2. Praktek–praktek yang tidak benar dari sebagian usahawan yang menyulitkan isi
independensi akuntan publik.
3. Honorarium relatif rendah untuk pekerjaan audit yang ditawarkan klien-klien
tingkat menengah dan kecil.
4. Masih sedikitnya badan usaha yang membutuhkan jasa akuntan publik khususnya
dibidang audit.
Faktor-faktor intern yang mempengaruhi adalah :
1. Kurangnya kesadaran untuk mengutamakan etik dan menjalankan profesi oleh
sebagian anggota IAI KAP.
2. Mutu pekerjaan audit yang ada tidak dapat dipertanggungjawabkan karena
penggunaan tenaga yang berkualitas kurang baik.
3. Tidak adanya perhatian yang sungguh-sungguh dari sebagian pimpinan KAP akan
mutu pekerjaan audit mereka.
4. Orientasi yang lebih mementingkan keuntungan finansial daripada menjaga nama
baik.
Gambaran Mengenai Ketaatan Pada Kode Etik
Idealnya gambaran mengenai ketaatan pada kode etik diperoleh dari semua unit
organisasi yang melakukan pengawasan, namun keterbatasan waktu tidaklah
memungkinkan hal tersebut. Secara umum evaluasi yang dilakukan oleh BPKP
terhadap sistem pengendalian mutu akuntan publik menunjukkan keadaan yang
memerlukan perhatian. Dari jumlah Kantor Akuntan Publik dan Koperasi Jasa Audit
yang dievaluasi sebanyak 51 kantor hanya 10 kantor mendapat peringkat “memadai”.
Jumlah yang terbanyak mendapat peringkat “memadai dengan pengecualian” yaitu 36
Kantor Akuntan Publik. Berarti ada hal-hal tertentu dengan sistem pengendalian
manajemen yang memerlukan penyempurnaan walaupun secara keseluruhan
keadaannya dipandang “memadai”. Sedangkan sisanya “tidak memadai”
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPKP tehadap kantor akuntan publik diperoleh
kesan pelanggaran terhadap kode etik lebih banyak dilakukan oleh KAP yang kecil
daripada yang besar. Walupun terhadap hal ini diperlukan penelitian mengenai sebabsebabnya,
dapat diduga bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari pendapatan yang
minim sehingga mendorong beberapa kantor mengabaikan segi etik dari pekerjaan
mereka. Selain itu ditemukan hasil pemeriksaan BPKP selama beberapa tahun
memberi kesan bahwa setiap tahun selalu ada beberapa kasus-kasus tentang
kesengajaan pelanggaran kode etik khususnya yang berkaitan dengan tidak
independensinya KAP yang bersangkutan dalam menyajikan fakta-fakta.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei pada perusahaan-perusahaan publik dan
non publik tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran yang nyata tentang etika
akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan.
Jenis dan sumber data
Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang diperoleh dari pimpinan atau
bagian akuntansi perusahaan yang diteliti. Data dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok sesuai dengan aturan yang ada dalam kode etik akuntan indonesia yaitu :
1. Data yang terkait dengan kepribadian 7 pertanyaan.
2. Data yang terkait dengan kecakapan profesional 5 pertanyaan.
3. Data yang terkait dengan tanggungjawab pada klien 7 pertanyaan
4. Data yang terkait dengan tanggungjawab kepada rekan seprofesi 1 pertanyaan.
5. Data yang terkait dengan tanggungjawab lain 1 pertanyaan
Teknik Pengumpulan Data
Dengan menggunakan kuesioner yang dikirim melalui pos pada perusahaanperusahaan
yang terpilih sebagai sampel, total kuesioner yang kembali untuk
perusahaan publik dapat diolah sebanyak 21 kuesioner dan perusahaan non publik
dapat diolah sebanyak 11 kuesioner.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan publik yang tercatat di Bursa
Efek Jakarta. Dari Indonesian Capital Market Directory th 2000 dan perusahaan yang
belum go publik yang diperoleh dari Departemen Perdagangan Jawa Timur yang
dibatasi pada perusahaan yang berskala besar.
Untuk perusahaan publik diambil sampel berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan tersebut dalam 3 tahun terakhir mengeluarkan laporan keuangan
2. Dalam tahun tersebut perusahaan satu tahun mengalami kerugian.
Dari jumlah tersebut 70 perusahaan dikirimi kuesioner, ternyata kuesioner yang
kembali dan dapat diolah sejumlah 21.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Departemen Perdagangan Jawa Timur,
perusahaan yang dikirimi kuesioner 50 perusahaan dan tingkat pengembaliannya kecil,
yaitu 11 perusahaan yang bersedia menjawab kuesioner . Walaupun jumlah responden
yang menjawab kuesioner tidak sama, namun karena keterbatasan waktu data tersebut
tetap diolah.
Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul akan dikelompokkan sebagai berikut :
1. Data dikelompokkan sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan yaitu
perusahaan publik dan non publik.
2. Dari data tersebut dihitung rata-rata prosentasi kemudian dibuat dalam bentuk
tabel dan grafik. Dari hasil perhitungan tersebut akan dilihat apakah ada perbedaan
kepatuhan Akuntan Publik terhadap Kode Etik Akuntan antara Akuntan Publik
yang memeriksa laporan keuangan pada perusahaan publik dan non publik.
ANALISIS DATA
Tabulasi Data
Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan tabulasi data. Data yang
dikumpulkan adalah data yang menunjukkan indikator tentang etika akuntan.
Indikator tersebut diambil dari item-item yang tertuang dalam kode etik akuntan
Indonesia. Secara garis besar kode etik akuntan memuat aturan yang seharusnya
dilakukan akuntan dalam melakukan pemeriksaan. Adapun aturan yang tertuang dalam
kode etik akuntan berkaitan dengan kepribadian, kecakapan profesional, dan tanggung
jawab akuntan baik yang berkaitan dengan klien, rekan seprofesi, maupun
tanggungjawab yang lain.
Oleh karena itu data penelitian ini kami kelompokkan sbb:
1. Data yang terkait dengan kepribadian
Kepribadian akuntan yang dimaksud di sini adalah seberapa jauh independensi dan
obyektifitas akuntan dalam melakukan pemeriksaan. Dalam penelitian ini ada tujuh
indikator yang terkait dengan kepribadian akuntan. Jawaban responden yang terkait
dengan kepribadian akuntan dapat ditunjukkan dalam tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1: Kepribadian Akuntan pada perusahaan Publik
No. Kepribadian Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Kejujuran 72 12 – –
2 Hubungan baik dengan pimpinan perusahaan 84 3 – –
3 Dapat mempertimbangkan fakta dengan baik 56 24 – –
4 Hubungan keuangan dengan perusahaan 88 – – –
5 Mempunyai kedudukan dalam perusahaan 84 3 – –
6 Mempunyai kerjasama bisnis 88 – – –
7 Memberikan jasa lain 60 21 – –
Tabel 2 : Kepribadian Akuntan pada perusahaan Non Publik
No. Kepribadian Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Kejujuran 24 15 – –
2 Hubungan baik dengan pimpinan perusahaan 36 6 – –
3 Dapat mempertimbangkan fakta dengan baik 24 15 – –
4 Hubungan keuangan dengan perusahaan 40 3 – –
5 Mempunyai kedudukan dalam perusahaan 4 – – –
6 Mempunyai kerjasam bisnis 44 – – –
7 memberikan jasa lain 28 3 2 2
2. Data yang terkait dengan kecakapan profesional
Kecakapan profesional meliputi kompetensi dan standar teknis pelaksanaan
pemeriksaan. Akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan wajib mematuhi
pasal-pasal yang ada dalam kode etik akuntan Indonesia. Dalam penelitian ini ada
lima indikator yang terkait dengan kecakapan profesional. Hasil penelitian yang
terkait dengan kecakapan profesional tampak dalam tabel 3 dan 4.
Tabel 3: Data Tentang Kecakapan Profesional Akuntan pada perusahaan Publik
No. Kecakapan profesional Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Selalu melaksanakan SPAP 88 – – –
2 Mematuhi kode etik akuntan 80 6 – –
3 Meningkatkan kecakapan profesional 72 12 – 1
4 Menolak penugasan yang tidak sesuai 52 12 8 1
5 Menjaga mutu pekerjaan profesional 68 15 – –
Tabel 4: Data Tentang Kecakapan Profesional Akuntan pada perusahaan Non Publik
No. Kecakapan profesional Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Selalu melaksanakan SPAP 40 – – 1
2 Mematuhi kode etik akuntan 28 – 4 1
3 Meningkatkan kecakapan profesional 40 3 – –
4 Menolak penugasan yang tidak sesuai 44 – – –
5 Menjaga mutu pekerjaan profesional 36 3 2 –
3. Data yang terkait dengan tanggung jawab kepada klien
Ada dua pasal yang mengatur tanggung jawab akuntan publik terhadap kliennya,
yaitu menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dan penetapan honorarium
untuk jasa yang diserahkan kepada kliennya. Dalam penelitian ini ada tujuh
indikator yang terkait dengan tanggung jawab kepada kliennya. Hal tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5: Data Tentang Tanggung jawab Akuntan Kepada Klien pada perusahaan
Publik
No. Tanggung Jawab Terhadap Klien Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Memperoleh fee berdasar hasil temuan 68 12 – 1
2 Menawarkan fee yang lebih rendah 56 24 – –
3 Pernah tidak menerima fee 84 – – 1
4 Pernah belum menerima fee 88 – – –
5 Pernah menerima barang atau jasa dari
perusahaan
76 12 – –
6 Pernah memberi barang atau jasa kepada
perusahaan
88 – – –
7 Menjaga kerahasiaan informasi perusahaan 80 6 – –
Tabel 6: Data Tentang Tanggung Jawab Akuntan Kepada Klien pada perusahaan
Non Publik
No. Tanggung Jawab Terhadap Klien Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Memperoleh fee berdasar hasil temuan 44 – – 1
2 Menawarkan fee yang lebih rendah 32 9 – –
3 Pernah tidak menerima fee 28 12 – 1
4 Pernah belum menerima fee 32 6 2 –
5 Pernah menerima barang atau jasa dari
perusahaan
28 6 2 –
6 Pernah memberi barang atau jasa kepada 36 3 – –
perusahaan
7 Menjaga kerahasiaan informasi perusahaan 28 – – –
4. Data yang terkait dengan tanggung jawab kepada rekan seprofesi
Pasal yang terkait dengan tanggung jawab akuntan kepada rekan seprofesinya
mengatur tentang hubungan antar rekan seprofesi. Dalam penelitian ini hanya ada
satu indikator yang terkait dengan tanggung jawab akuntan terhadap rekan
seprofesi. Hasil tabulasi jawaban responden yang terkait dengan hal ini dapat dilihat
pada tabel 7 dan 8
Tabel 7: Data yang terkait dengan tanggung jawab kepada rekan seprofesi pada
perusahaan Publik
No. Tanggung Jawab Pada Rekan Seprofesi Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Memelihara hubungan baik dengan rekan
seprofesi
64 – 18 –
Tabel 8: Data yang terkait dengan tanggung jawab kepada rekan seprofesi pada
perusahaan Non Publik
No. Tanggung Jawab Pada Rekan Seprofesi Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Memelihara hubungan baik dengan rekan
seprofesi
21 6 18 –
5. Data yang terkait dengan tanggung jawab yang lain
Tanggung jawab lain yang harus diperhatikan akuntan adalah tidak diperbolehkan
akuntan mengiklankan diri atau jasa yang dijualnya. Dalam penelitian ini juga hanya
ada satu indikator yang ditanyakan kepada responden. Hasilnya dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
Tabel 9: Data yang terkait dengan tanggung jawab yang lain pada perusahaan
Publik
No. Tanggung jawab pada lainnya Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Mengiklankan nama atau jasa yang diberikan – 2 15 64
Tabel 10: Data yang terkait dengan tanggung jawab yang lain pada perusahaan
Non Publik
No. Tanggung jawab pada lainnya Selalu Sering Jarang
Tidak
pernah
1 Mengiklankan nama atau jasa yang diberikan – 2 6 32
6. Data pendukung
Yang dimaksud data pendukung di sini adalah data yang diperoleh dari penelitian
tetapi tidak terkait langsung dengan penelaahan etika akuntan, misalnya: jenis audit,
dan opini akuntan yang diberikan atas audit yang dilakukan. Hasil tabulasi ini
tampak pada tabel di bawah ini.
Tabel 11: Jenis Pemeriksaan Dan Opini Yang Diberikan pada perusahaan Publik
Opini
Jenis Audit
Jumlah
Perusahaan Unqua
-lified
Qualified
Adverse
Disclaimer
Tidak
menjawab
Financial Audit 21 14 4 – – 3
Manajemen
Audit 6 1 4 – – 1
Audit lainnya 4 1 – – – 3
Tabel 12: Jenis Pemeriksaan Dan Opini Yang Diberikan pada perusahaan Non
Publik
Opini
Jenis Audit
Jumlah
Perusahaan Unqua
-lified
Qualified
Adverse
Disclaimer
Tidak
menjawab
Financial Audit 11 6 2 – – 3
Manajemen
Audit 3 – – – – 3
Audit lainnya 1 1 – – – –
Analisis Data
Setelah dilakukan tabulasi data, maka akan dilanjutkan dengan analisis
frekuensi yaitu mencari tingkat prosentase dari masing-masing variabel atau indikator,
dengan rumus:
Frekuensi jawaban
P = —————————
Total Jawaban
Hasil perhitungan jawaban responden seperti yang ditampilkan pada tabel di
bawah ini.
Tabel 13: Tabulasi Jawaban Responden (untuk perusahaan publik)
Selalu Sering Jarang Tidak Pernah
Kepribadian 89.41% 10.59% – –
Kecakapan Profesional 86.95% 10.86% 1.93% 0.24%
Tanggungjawab kepada klien 90.60% 9.06% – 0.33
Tanggungjawab kepada rekan 78.04% 21.95% – –
Tanggungjawab kepada lainnya – 2.47% 18.52% 79.01%
Tabel 14: Tabulasi Jawaban Responden (untuk perusahaan non publik)
Selalu Sering Jarang Tidak Pernah
Kepribadian 84.6% 15% 0.2% 0.2%
Kecakapan Profesional 93% 3% 3% 1%
Tanggungjawab kepada klien 85% 13.5% 1.5% –
Tanggungjawab kepada rekan 72.4% 20.7% 6.9% –
Tanggungjawab kepada lainnya – – 15.8% 84.2%
Dari tabel tersebut di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Kepribadian
a. Untuk perusahaan Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 89,41 %
responden menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan
pemeriksaan selalu bertindak secara independen dan obyektif. Sedangkan
10,59 % responden menjawab sering, artinya akuntan publik juga ada yang
independensi dan obyektifitasnya tidak 100 %. Secara umum dapat
disimpulkan bahwa akuntan publik mempunyai kepribadian yang baik.
b. Untuk perusahaan Non Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 84,6 % responden
menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan
selalu bertindak secara independen dan obyektif. Sedangkan 15 % responden
menjawab sering, artinya akuntan publik juga ada yang independensi dan
obyektifitasnya tidak 100 %. Secara umum dapat disimpulkan bahwa akuntan
publik mempunyai kepribadian yang baik.
2. Kecakapan Profesional
a. Untuk perusahaan Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 86,95 %
responden menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan
pemeriksaan memiliki kompetensi yang baik dan pelaksanaan pemeriksaan
sudah sesuai dengan standar teknis pelaksanaan pemeriksaan. Sedangkan
10,86 % responden menjawab sering, artinya akuntan publik yang tingkat
kompetensinya agak baik dan tingkat kepatuhan terhadap standar teknis
pelaksanaan pemeriksaan juga agak baik. Hasil temuan lain menunjukkan
bahwa ada juga akuntan publik yang kurang memiliki kompetensi dan
menyimpang dari standar teknis pelaksanaan pemeriksaan. Secara umum
dapat disimpulkan bahwa akuntan publik mempunyai kecakapan profesional
yang baik.
b. Untuk perusahaan Non Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 93 % responden
menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan
memiliki kompetensi yang baik dan pelaksanaan pemeriksaan sudah sesuai
dengan standar teknis pelaksanaan pemeriksaan. Sedangkan 3 % responden
menjawab sering, artinya akuntan publik yang tingkat kompetensinya agak
baik dan tingkat kepatuhan terhadap standar teknis pelaksanaan pemeriksaan
juga agak baik. Hasil temuan lain menunjukkan bahwa ada juga akuntan
publik yang kurang memiliki kompetensi dan menyimpang dari standar teknis
pelaksanaan pemeriksaan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa akuntan
publik mempunyai kecakapan profesional yang baik.
3. Tanggungjawab Kepada Klien
a. Untuk perusahaan Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 90,60 %
responden menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan
pemeriksaan selalu menjaga rahasia informasi perusahaan klien dan penetapan
honorarium sudah baik. Sedangkan 9,06 % responden menjawab sering,
artinya akuntan publik juga ada yang kurang menjaga rahasia informasi
perusahaan klien dan penetapan honorarium kurang sesuai dengan jasa yang
diserahkan kepada klien. Secara umum dapat disimpulkan bahwa akuntan
publik mempunyai tanggung jawab kepada klien sudah baik.
b. Untuk perusahaan Non Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 85% responden
menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan
selalu menjaga rahasia informasi perusahaan klien dan penetapan honorarium
sudah baik. Sedangkan 13,5 % responden menjawab sering, artinya akuntan
publik juga ada yang kurang menjaga rahasia informasi perusahaan klien dan
penetapan honorarium kurang sesuai dengan jasa yang diserahkan kepada
klien. Secara umum dapat disimpulkan bahwa akuntan publik mempunyai
tanggung jawab kepada klien sudah baik.
4. Tanggungjawab Kepada Rekan Seprofesinya
a. Untuk perusahaan Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 78,05 %
responden menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan
pemeriksaan selalu menjaga hubungan baik dengan rekan seprofesinya.
Sedangkan 21,95 % responden menjawab sering, artinya akuntan publik juga
ada yang kurang menjaga hubungan baik dengan rekan seprofesinya. Secara
umum dapat disimpulkan bahwa akuntan publik mempunyai tanggungjawab
yang baik kepada rekan seprofesinya.
b. Untuk perusahaan Non Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 72,4 % responden
menjawab selalu, artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan pemeriksaan
selalu menjaga hubungan baik dengan rekan seprofesinya. Sedangkan 20 %
responden menjawab sering, artinya akuntan publik juga ada yang kurang
menjaga hubungan baik dengan rekan seprofesinya. Secara umum dapat
disimpulkan bahwa akuntan publik mempunyai tanggungjawab yang baik
kepada rekan seprofesinya.
5. Tanggungjawab Yang Lain
a. Untuk perusahaan Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 79,01 % responden
menjawab tidak pernah artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan
pemeriksaan tidak melakukan promosi atas diri dan jasa yang diberikan kepada
klien. Sedangkan 18,52 % responden menjawab jarang artinya akuntan publik
juga ada yang melakukan promosi atas diri dan jasa yang diberikan. Secara
umum dapat disimpulkan bahwa tanggungjawab akuntan yang lain juga baik.
b. Untuk perusahaan Non Publik
Berdasarkan prosentase jawaban menunjukkan bahwa 84,2 % responden
menjawab tidak pernah artinya bahwa akuntan publik dalam melakukan
pemeriksaan tidak melakukan promosi atas diri dan jasa yang diberikan kepada
klien. Sedangkan 15 % responden menjawab jarang artinya akuntan publik juga
ada yang melakukan promosi atas diri dan jasa yang diberikan. Secara umum
dapat disimpulkan bahwa tanggungjawab akuntan yang lain juga baik.
6. Temuan Lain
Dari jawaban responden juga dapat diketahui bahwa semua perusahaan go
public setiap tahun selalu diadakan pemeriksaan atas laporan keuangan. Hal ini
dapat dipastikan karena semua perusahaan yang go public, jika akan
mempublikasikan laporan keuangannya kepada publik, maka laporan keuangan
tersebut harus sudah diaudit. Dan opini akuntan yang diberikan pada laporan
keuangan yang diperiksa secara umum adalah unqualified opinion.
Dari hasil penelitian ini juga dapat diketahui bahwa tidak semua perusahaan go
public melakukan pemeriksaan manajemen atau pemeriksaan operasional. Hal ini
memang IAI tidak mengharuskan perusahaan yang go public untuk melakukan
pemeriksaan manajemen atau pemeriksaan operasional. Pemeriksaan manajemen
dilakukan jika manajemen atau pihak lain ingin mengetahui apakah kinerja
manajemen perusahaan tersebut sudah efektif, efisien dan ekonomis.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Akuntan publik yang melakukan pemeriksaan pada perusahaan yang publik dan
non publik mempunyai sikap yang independen dan obyektif. Atau dengan kata lain
kepribadian akuntan publik sudah baik.
2. Akuntan publik yang melakukan pemeriksaan pada perusahaan publik dan non
publik memiliki tingkat kecakapan profesional yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari
hasil analisis yang menyatakan bahwa akuntan publik dalam melakukan
pemeriksaan hampir selalu mengacu pada aturan yang ada yaitu kode etik dan
standar pemeriksaan akuntan publik.
3. Akuntan publik yang melakukan pemeriksaan pada perusahaan publik dan non
publik memiliki tanggungjawab yang tinggi, baik kepada klien, rekan seprofesi
maupun tanggungjawab lainnya.
Implikasi
1. Kepada Akuntan Publik
Meskipun secara umum hasil penelitian ini dapat menunjukkan bahwa etika
akuntan publik sudah baik, namun ada juga temuan yang menunjukkan ada
akuntan yang memiliki etika yang kurang sesuai dengan aturan yang ada. Untuk itu
diharapkan agar akuntan publik yang melakukan pemeriksaan tetap mengacu
kepada aturan yang sudah ada yaitu kode etik akuntan dan SPAP.
2. Kepada Organisasi Profesi (IAI)
Hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan dalam menentukan sanksi kepada
akuntan publik yang melakukan pelanggaran. Walaupun sedikit, dari hasil penelitian
ini dapat diketahui adanya penyimpangan etika akuntan dalam melakukan
pemeriksaan.
ooOoo
Daftar Pustaka
Imam Sarwoko, 1996. Perubahan Peran dan Tanggungjawab Profesi Akuntansi dalam Era
Globalisasi, Artikel KNA Ketiga, IAI, Semarang.
Kieso, Weygand, 1995. Akuntansi Intermediate, Edisi Ketujuh, dialihbahasakan Herman
Wibowo, Binarupa Aksara, Jakarta.
Mulyadi, Kanaka Puradiredja, 1997. Auditing, Edisi Kelima , Salemba Empat, Jakarta.
SutrisnoAgoes, 1996. Penegakan Kode Etik Akuntan Indonesia, Artikel KNA, IAI,
Semarang.
Zaki Baridwan, 1997. Intemediate Accounting, Edisi Ketujuh, BPFE, Yogyakarta.

Tags:

Readers Comments (0)




Tanggalan

November 2010
M T W T F S S
« Sep   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Baca Berita Lainnya

Alamat Redaksi

Office : Jl.H.M.Aman No.1 Grogol Limo Depok 16512
Telp. 021.2742 9191, 9403 9191
SMS .0856 902 9191
Hotline . 0812 8420 9191
E-mail. admin@besemah.com
Technical Support
Admin

Sponsor Utama Besemah.com

bace bae ye lain